SMK PANGUDI LUHUR MUNTILAN
SMK Pangudi Luhur Muntilan - Jl. Kartini No.2 Muntilan  Telp/Fax. 0293-587867
Rabu, 13 Desember 2017  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


14.05.2016 07:52:01 656x dibaca.
ARTIKEL
PEMANFAATAN SARANA TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN (SEBUAH PENGALAMAN PRAKTIS)

Pada dasarnya setiap sekolah menginginkan keberhasilan dalam proses pendidikannya. Sebagai ukuran keberhasilan itu ialah para siswanya berprestasi. Tingkat kelulusan mencapai 100% dengan nilai yang memuaskan. Maka dari itu banyak usaha dilakukan sekolah untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sampai-sampai ada sekolah yang menggunakan cara yang tak pantas, bahkan menelurkan citra buruk dunia pendidikan.

Memang keberhasilan sebuah pendidikan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Baik faktor lembaga yang menaunginya, lingkungan, pendidik, bahkan juga peserta didik itu sendiri. Namun, perlu diingat bahwa sebagai unjung tombak untuk keberhasilan pendidikan adalah pendidik itu sendiri. Maka, ketika hasil UN jelek pada mata pelajaran tertentu yang ditanyakan adalah "Gurunya siapa sih?" Dengan demikian tanggung jawab seorang guru itu demikian beratnya. Betapa tidak, ia menjadi tumpuan harapan banyak pihak. Oleh karena itu sudah seharusnya seorang guru senantiasa mengembangkan diri demi mewujudkan harapan-harapan tersebut.

Banyak hal yang mestinya dikembangkan. Salah satu yang perlu dikembangkan adalah dalam hal teknik mengajar di kelas. Dengan prinsip bahwa pada hakikatnya pendidikan bertujuan menjadikan anak didik '"pintar" baik secara inteligensi maupun secara emosi, maka bagaimana dalam hal ini pendidik bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik. Dengan demikian peserta didik merasakan kenyamanan ketika belajar di kelas. Bahkan belajar di kelas bisa merupakan kerinduan sehingga memudahkan tujuan tersebut tercapai.Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan keadaan seperti di atas? Memanfaatkan Teknologi Sehubungan dengan hal tersebut di atas, saya memiliki beberapa pengalamann yang sangat sederhana ketika mengajar di kelas.

Pertama, hal ini berawal ketika seorang siswa bertanya tentang materi tertentu dan saya tidak bisa menjawab karena lupa. "Mengapa tidak tanya google" pikir saya waktu itu. Akhirnya bersama-sama siswa, saya waktu itu searching di google tentang permasalahan tersebut dengan saya tayangkan di layar LCD di depan kelas. Para siswa sungguh sangat terkesan dengan cara sederhana itu. Setelah selesai pembahasan permasalahan kelas, saya bertanya kepada para siswa tentang apa yang ia lakukan ketika sedang "ngenet". Jawabnya sebagian besar "main game" dan membuka facebook. Yang lainya mengerjakan tugas dari guru, membaca berita, dan lain-lain. Lalu saya lanjutkan pertanyaan kedua tentang apakah ketika mempunyai masalah dengan materi siswaan pernah bertanya melalui search engine seperti google. Jawabnya sebagian besar, "tidak". Berdasarkan pengalaman bersama ketika searching di google di atas, saya menegaskan kepada para siswa betapa kita dimudahkan dengan teknologi yang sangat berkembang saat ini. Maka sejak itu saya perintahkan siswa saya untuk membiasakan menempatkan google sebagai tempat "pelarian" ketika kita sedang punya masalah pelajaran, bahkan masalah-masalah pengetahuan yang lain.Setelah seminggu kemudian, saya kembali masuk ke kelas yang sama. Belum sempat saya membuka pelajaran, ada seorang siswa yang mengacungkan tangan dan meminta izin untuk memmbuka laptopnya sebagai persiapan untuk searching di internet kalau-kalau menemukan masalah pelajaran.

Kedua, dalam perkembangan selanjutnya saya mencari-cari cara untuk pengembangan pembelajaran yang menyenangkan. Sebisa mungkin saya mengusahakan sesuatu yang mudah didapat dan dengan biaya yang murah. Suatu kebetulan bak peribahasa "awak mengantuk disorong bantal". Saya menemukan apa yang saya cari. Ialah program pembelajaran online yang bernama Quipper. Adapun program ini diselenggarakan oleh sebuah situs pembelajaran yang bernama Quipper School. Penggunaan program ini mengharuskan pengguna mengoperasikan komputer atau perangkat lain yang dapat terkoneksi dengan internet. Baik guru maupun siswa juga harus memiliki akun untuk mengaksesnya. Oleh karena itu semua pengguna harus memiliki email yang digunakan dalam proses pendaftaran. Quipper School terdiri dari dua bagian: Link untuk guru dan Learn untuk siswa. Halaman ini memberikan informasi mengenai cara platform tersebut bergabung dan menciptakan layanan yang menakjubkan bagi guru dan siswa. Untuk mengenal lebih lanjut program di atas berikut ini keterangan yang dapat dipelajari, atau dapat akses langsung ke https://school.quipper.com/id/how_it_works.html.

1. Link: Untuk Guru Quipper School Link adalah tempat di mana guru dapat mengelola konten, memberikan tugas dan juga mengikuti perkembangan siswa, baik secara individu maupun bersama dengan rekan guru lain. Link menonjolkan pembuatan tugas online yang mudah dan cepat. Hanya dalam hitungan menit, guru dapat memilih topik, mengatur batas waktu tugas dan mengirimkannya kepada para siswa. Pengumpulan tugas siswa terpapar langsung di Link. Guru dapat mengurutkannya berdasarkan metrik inti, seperti pencapaian dan waktu belajar, untuk mengidentifikasi kebiasaan dari seluruh kelas, grup siswa atau individu. Quipper School hadir mengemas topik-topik yang dibuat dan dipilih oleh para ahli, untuk menguji siswa dengan tipe soal yang berbeda-beda. Jika kita merasa kurang, kita bisa membuat konten sendiri dengan fasilitas create yang tersedia. Selama kita mengoperasikan program ini kita juga dapat mengirim pesan ke siswa melalui menu pesan.

2. Learn: Untuk Siswa Quipper School Learn adalah tempat di mana siswa belajar, memperbaiki dan menjawab soal-soal menggunakan metode efektif yang membuat belajar menjadi semakin menyenangkan. Baik menggunakan smartphone, komputer atau perangkat apapun yang serupa, siswa dapat langsung menerima tugas, sehingga siswa dapat belajar kapan saja atau di mana saja mereka terhubung dengan internet. Jika menggunakan smartphone, siswa juga dapat mengunduh di Playstore program Q-Learn untuk mengakses Quipper tersebut. Siswa didorong untuk 'menguasai' topik satu per satu, sehingga dapat membangun pemahaman mereka secara bertahap. Jika siswa merasa belum yakin, fitur pesan akan memudahkan guru untuk membantu mereka. Siswa dapat memilih avatar, melihat perkembangan sesama siswa di bagian 'Aktivitas Siswa', mengumpulkan koin dan membeli tema sehingga bisa mendapatkan suasana belajar yang diinginkan. Layanan Quipper School terjangkau bagi semua orang, jadi untuk pendaftaran dan penggunaan layanan utama adalah gratis. Memang, ada konten dan fitur tertentu yang berkategori premium, dikenakan biaya yang kecil misalnya program persiapan UN dan quipper video. Siswa dapat menggunakan Quipper School di rumah atau di mana pun mereka bisa mendapatkan koneksi internet (misal: warnet). QS dapat diakses dari perangkat apapun 24 jam seminggu.

Dari pengalaman itu saya mengambil kesimpulan bahwa untuk sekolah-sekolah yang belum memiliki program pembelajaran berbasis e-learning, kegiatan di atas bisa menjadi program alternatif. Walaupun tidak merupakan kegiatan pokok dalam proses KBM, namun cara sederhana dengan memanfaatkan secara maksimal apa yang ada di sekitar kita tersebut dapat membuat situasi pembelajaran di kelas lebih menyenangkan. Semoga pengalaman kecil ini dapat menjadi inspirasi teman-teman pendidik demi mewujudkan keberhasilan pendidikan di tanah air. Semoga. Sumber: https://school.quipper.com/

 

FX. Eko P

Guru Bahasa Indonesia SMK PL Muntilan








^:^ : IP 54.221.73.186 : 2 ms   
SMK PANGUDI LUHUR MUNTILAN
 © 2017  http://smkpangudiluhur-mtl.sch.id/